Waspadai Virus Sombong

SPEAK YOUR MIND

Ibnu Harist al-Hafi Rahimahullah mendefinisikan kesombongan dan ujub dengan ungkapan “Jika engkau merasa amalmu banyak sedang amal orang selainmu sedikit”. Wah, meski kita berusaha sekuat tenaga untuk ngumpulin pahala, tapi bukan berarti harus memandang amal orang lain rendah ketimbang amal kita. Itu bisa jatuh ke dalam bentuk sikap sombong.

Syaikh Fudhail bin Iyadh Rahimahullah, salah satu guru Imam Syafi’i Rahimahullah, menjelaskan bahwa iblis akan menang melawan bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku, yaitu: Pertama, ujubnya seseorang terhadap dirinya (sombong). Kedua, menganggap banyak amal yang telah dilakukannya. Ketiga, melupakan dosa-dosanya. Hmm… jadi kayaknya kita kudu ati-ati banget kalo udah merasa paling oke ketimbang yang lain. Sehingga kalo diingetin or dinasihatin kita cuek aja dan menganggap yang ngasih nasihat tuh nggak ada apa-apanya dibanding kita.

Semoga saja kita bisa menghindari sikap sombong. Sebab, menurut seorang teman dengan setengah berpuisi nulis di sebuah grup diskusi dunia maya: “Berapa banyak lentera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal soleh adalah cahaya dan cahaya itu bisa padam oleh angin ‘ujub dan kesombongan.”

Itu sebabnya, Hasan al-Bashri tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhawatirannya bila Allah Ta’ala memandang amal-amal yang dia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya, “Ya, Hasan apakah engkau seorang mukmin?”

Hasan al-Bashri hanya menjawab, “Insya Allah”. Penanya terkejut dengan jawabannya.

 “Kenapa engkau menjawab seperti itu?”

Imam Hasan al-Bashri mengatakan, “Aku takut jika aku katakan ‘ya, aku mukmin’ tetapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’ karena itu aku katakan insya Allah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang Dia benci, lalu Dia murka kepadaku dan mengatakan ‘pergilah Aku tidak menerima amal-amalmu’”.

Ini memang sikap zuhud dari Imam Hasan al-Bashri. Saking khawatirnya jatuh ke dalam ujub alias sombong, beliau sampe mengatakan demikian. Khawatir jika kemudian pernyataannya bikin bangga dengan dirinya sendiri dan merendahkan orang lain. Meski sebenarnya boleh juga bila kita dengan semangat menuliskan: “Proud to be muslim”. Tentu ini sebagai wujud rasa syukur kita sebagai muslim, dan tentunya akan berusaha untuk meningkatkan level kita menjadi seorang mukmin.

Sahabat CRB!!! Jika kita sudah mampu mengenal diri kita luar-dalam, kayaknya insya Allah deh kita nggak bakalan sombong dan menganggap orang lain rendah ketimbang kita. Kita juga mau menghargai orang lain yang mengingatkan kita dan menegur kita jika kita berbuat salah. Karena kita yakin dan sadar bahwa sebagai manusia kita pasti banyak sisi lemahnya. Seringnya kita lupa. Jadi, kalo ada orang yang ngingetin kan seharusnya bersyukur. Jangan malah sewot dan merasa direndahkan.

Disarikan dari artikel Remaja Gaul Muslim oleh O. Solihin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *