Siapa Bilang Perayaan Tahun Baru Itu Haram???

SPEAK YOUR MIND

tahun baru

       Sahabat CRB! Tak terasa dua hari lagi kita akan memasuki tahun 2016 Masehi. Ya, tahun baru! Sebuah momen di mana kebanyakan orang bersorak-sorak menyambutnya. Momen yang hanya sekali dalam setahun ini biasanya diwarnai dengan tiupan terompet dan hura-hura, tak peduli anak-anak, dewasa atau tua sekalipun. Semua orang tampak bahagia mengisi pergantian tanggal sporadis ini.

      Namun apakah kita tahu sejarah tentang perayaan tahun baru ini? Siapakah yang memulainya? Apakah Nabi Muhammad ﷺ ? Atau siapa ?. Nah, dengan artikel ini mari kita berjalan-jalan ke masa lalu dan mencari tahu tentang fakta-fakta sejarah dari perayaan tahun baru ini!

Petualangan segera dimulai. Bismillah. (Keberangkatan)

      Sahabat CRB! Kita telah sampai di kota Roma pada tahun 45 Sebelum Masehi (Sebelum kelahiran Nabi Isa AS), atau kira-kira 600 tahun sebelum diutusnya Rasulullah Muhammad ﷺ. Ini adalah era kepemimpinan  Julius Caesar. Pada masa pemerintahannya Julius dibantu oleh seorang ahli astronomi bernama Sosigenes dari Iskandariyah, Mesir. Mereka mengganti penanggalan tradisional Romawi lama dan merancang penanggalan baru mengikuti revolusi matahari seperti yang dilakukan oleh orang-orang Mesir. Inilah pertama kalinya tahun baru dipublikasikan dan dirayakan.

       Tak hanya itu, bahkan dia mengabadikan namanya (Julius/Juli) sebagai pengganti bulan ke-7 (Quintilis) dalam kalender Masehi. Rezim setelahnya pun Augustus Caesar mengikuti tradisi ini dengan mengubah bulan kedelapan (Sextilis) dengan namanya (Augustus/Agustus). Kemudian tradisi ini menyebar luas hingga penghujung dunia pun ikut merestui dan merayakan tahun baru, saking besarnya pengaruh bangsa Romawi pada masa itu yang konon tengah mencapai imperium/masa keemasan. Dan jika ditelaah lebih lanjut, sesungguhnya bangsa inilah yang nantinya akan bertransformasi menjadi umat Kristiani.

(Fakta pertama : Dari petualangan di tahun 45 SM ini kita mengetahui bahwa ternyata Julius Caesar lah yang pertama kali membuat penanggalan Masehi ini sekaligus merayakannya. Sama sekali bukan ajaran Islam, karena Islam belum ada pada masa itu.)

       Sahabat CRB! Mari kita tinggalkan peradaban Romawi kuno ini dan memasuki 6 abad berikutnya, yakni masa di mana Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia sesuai dengan kadar tujuan penciptaannya. Kita lihat bagaimana sikap panutan kita terhadap perayaan tahun baru ini.

      Kita telah tiba di Madinah dan bersama-sama dengan Baginda ﷺ, kita lihat bagaimana sikap Baginda ﷺ ketika mendapati kaumnya (orang-orang Madinah) yang kala itu masih turut serta bersenang-senang merayakan tahun baru ini. Mereka biasa mengisinya dengan berbagai permainan. Kita dengarkan sama-sama sabda Baginda ﷺ. Beliau bertanya kepada mereka (kaum Anshor yang sangat dicintainya), “Ada apa dengan dua hari ini?”, lalu mereka menjawab, “Kami biasa bermain-main pada hari ini di masa jahiliyah”, Baginda ﷺ kembali bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

     Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.” (H.R. Abu Dawud)

(Para Muhaditsin atau para Ulama Hadits mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua hari yang sebelumnya mereka rayakan dalam hadits ini adalah hari Nairuz dan hari Muhrojan. Kedua nama ini adalah penamaan orang-orang Madinah untuk hari pertama di Tahun Masehi, sedangkan nama lainnya adalah semisal cuti bersama).

(Fakta kedua : Dari petualangan kita di era kenabian Rasulullah ﷺ ini kita telah mendengar sabdanya bahwa Beliau ﷺ telah menghapusnya dan menggantikan dua hari hura-hura itu dengan dua hari raya yakni Idul Fitri dan Idul Adha.)

       Sahabat CRB! Sebelum kita kembali ke abad 21 kakak ingin sedikit memberikan pencerahan. Tolong dengarkan baik-baik ya!

“Mengikuti tradisi yang dilakukan oleh orang-orang non Islam (apalagi tradisi buruk) itu dinamakan tasyabuh, dan tasyabuh hukumnya adalah HARAM. Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa barang siapa yang menyerupai suatu kaum (baik dalam tradisi atau kepercayaan dan lain sebagainya) maka dia telah menjadi bagian dari kaum yang diserupainya itu. Jika menyerupai bangsa Romawi, maka dikhawatirkan kita pun akan menjadi bagian dari mereka. Na’udzubillahi min dzaalik. Disamakan dengan suatu kaum yang dalam seumur hidupnya tidak pernah bersujud kepada Allah ﷻ. Lalu, maukah kita disamakan dengan mereka? Jangan pernah mau!!!”

(Perjalanan Pulang ke Abad 21 M)

       Alhamdulillah! Selesai sudah petualangan kita pada kesempatan ini. Dua dimensi waktu telah kita jelajahi dan mendapatkan benang merahnya melalui dua fakta sejarah yang telah kita saksikan sendiri. 🙂

     Nah, Sahabat CRB!!! Sebelum pulang ke rumah masing-masing kakak ingin bertanya untuk terakhir kalinya. Apakah kita masih ingin menghidupkan tradisi Bangsa Romawi yang telah dihapuskan oleh Rasulullah ﷺ? Kakak harap kalian menjawab, “Tidak!”. Karena ini adalah ungkapan dalam bentuk ketaatan kepada panutan kita semua, Rasulullah ﷺ.

      Jadi, jika ada yang bertanya, “Siapa bilang perayaan tahun baru itu haram?”, maka jawablah! “Rasulullah ﷺ yang mengharamkannya. Karena ini adalah perbuatan tasyabuh (menyerupai golongan non Islam), dan hukum tasyabuh adalah haram. Dan dengan kebijaksanaan-Nya, Allah ﷻ tidak hanya melarang perayaan tahun baru ini, tapi menggantinya dengan dua perayaan dalam agama Islam, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.”

See you next time, Sahabat CRB! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *