Remaja Islam dan Figuritas

SPEAK YOUR MIND

Salah satu kesimpang-siuran yang tengah melanda remaja Islam saat ini adalah budaya ngefans atau figurisme, yakni pengikutan terhadap budaya-budaya non Islam dengan segala bentuk dan coraknya yang sangat jauh dengan etika-etika Islami. Remaja yang kita saksikan saat ini lebih mementingkan trendy diatas segalanya sekalipun harus menggadaikan jati dirinya sebagai remaja Muslim. Hal ini tentu merupakan sebuah ancaman bagi masa depan bangsa dan terutama bagi agama Islam itu sendiri yang kemurniannya tak bisa ditawar-tawar apalagi di infiltrasi oleh budaya yang bertentangan dengan syari’at Islam.

Dalam kacamata psikologis, usia remaja (12-21 tahun) memang sangat rentan terhadap pengaruh-pengaruh yang berada disekitarnya baik positif ataupun negatif. Tentu saja baik dan buruknya pengaruh itu hanya bisa ditimbang dengan timbangan syariat. Sehingga katakan “boleh” selama syari’at membolehkan, dan katakan “tidak boleh” ketika syari’at mentidakbolehkan.

Gejolak umum penyakit ini biasanya diawali dengan nge-fans kepada figur tertentu yang secara syari’at sangat tidak cocok untuk diikuti. Fenomena ini terus terjadi silih berganti di setiap generasi terutama dimulai sejak generasi baby boomers[1] hingga generasi alfa[2] di masa kini. Misalkan di era baby boomers banyak sekali remaja Islam di Indonesia yang mengelu-elukan Elvis Presley dan The Beatles, bahkan ada Asep Winston (remaja Islam era 70an) asal Bandung saking ngefansnya sampai merasa bahwa dirinya adalah John Lennon The Beatles yang asli.

Remaja generasi Alfa-pun tak kalah bobroknya dalam memilih figur. Coba lihat dari model rambut, cara berpakaian dan penampilan muda-mudi saat ini, mereka lebih memilih meniru gaya-gaya seperti Justin Bieber, Louis Tomlinson, Andhika Kangen Band dan sederet bintang barat lainnya. (Eh, Emang Andhika dari Barat ya?). Begitu pula termasuk perayaan seperti ulang tahun dan New Year dimana para pemuda Muslim ikut-kutan merayakan semua yang diimpor dari ajaran non-Muslim, sama sekali bukan ajaran Islam. Terang sekali apa yang telah Rosululloh SAW sabdakan di dalam haditsnya yang mulia bahwa umat Islam akan mengikuti jejak non-Muslim selangkah demi selangkah.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Kalau bukan mereka siapa lagi?” (HR. Bukhari no. 7319)

Penyakit ini memang sudah sangat kronis bahkan sudah dianggap sebagai kebutuhan primer para remaja dalam memilih dan menentukan jalan hidupnya. Seakan-akan ia tidak bermasalah dengan apa yang diambilnya, padahal hal ini dapat merampas keimanan dan integritas mereka sebagai remaja Islam.

Lebih dari satu milenium tahun yang lalu Rosululloh SAW panutan agung kita begitu mewanti-wantikan akan bahaya dan dampak buruk penyakit ini melalui sabdanya yang mulia, diantaranya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Umar r.a yakni:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Hadits ini merupakan ancaman serius bagi setiap kaum Muslimin yang meniru mode atau trend orang-orang kafir yang pastinya diawali dengan mengagumi dan mencintai mereka. Hal ini tidak pernah terjadi di masa Rosululloh SAW karena pada hakikatnya jika seorang mukmin melakukan hal ini sama saja dengan menghinakan diri. Bagaimana bisa kita mengagumi orang kafir padahal Alloh SWT telah memuliakan kaum Muslimin jauh diatas orang-orang kafir.

Konsekuensi logis dari hadits mulia ini adalah “jika kita mencintai atau menyerupai orang kafir, maka kelak diakhirat nanti kita akan bersama mereka di Neraka” Naudzubillahi min dzaalik.

Maka segeralah move on dari keburukan ini dengan se-move on-move on-nya. Sungguh jika terus dibiarkan, maka ini akan menjadi sebuah kerugian yang besar di akhirat nanti. Pilihlah sebaik-baik figur yang telah Alloh SWT rekomendasikan bagi kita, yakni Rosululloh Muhammad SAW. Ikutilah Beliau SAW dari segala apa yang Beliau ucapkan, perintahkan, tetapkan, bahkan semua yang Beliau SAW pernah lakukan di dalam hidupnya.

Semoga Alloh SWT senantiasa membimbing kita untuk teguh diatas shirotul mustaqim, yakni dengan mengikhlashkan diri kita dan dengan mengikuti Rosululloh SAW secara total. Inilah jalan yang lurus. . .

Walloohu a’lam

Oleh: Al Ghafiqhie, Duta CRB

 

[1] Remaja tahun 1946-1964an

[2] Remaja tahun 2000-sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *