Pemuda Islam; Para Penggebrak dan Pengukir Sejarah

SPEAK YOUR MIND

Sosok pemuda memang sosok yang sedang berada pada masa emas, semangat tinggi, idealisme yang kental dan ide serta kreatifitas yang sangat gemilang.

Seberapa besarkah peran para pemuda dalam

Ada tiga pemuda pengukir sejarah yang kini akan penulis hadirkan. Siapa sajakah mereka?

1) Sultan Muhammad Al Fatih (Mahmed II)/1451-1481 M

Pemuda ini dilahirkan pada 29 Maret 1432 Masehi di Adrianapolis (Perbatasan Turki-bulgaria). Ia adalah putra dari Raja pada masa Daulah Ustmaniyyah, yaitu Sultan Murad II (1421-1451 M) pemimpin umat muslim yang begitu gigih menaklukan Konstantinopel (kini Istanbul), kota Bandar termasyur di dunia yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Constantine (Raja Bizantium). Kota ini selalu menjadi rebutan berbagai suku-bangsa karena letaknya yang sangat strategis. Kala itu Sultan Murad II selalu gagal menaklukan Konstantinopel. Namun, usahanya ini kelak akan dilanjutkankan oleh putra-nya, Muhammad al-Fatih sebagai sultan ke-7 Daulah Ustmaniyyah.
Muhammad Al-fatih naik tahta ketika berusia 19 tahun. Sejak kecil beliau telah mengamati usaha ayahnya dan umat Islam dalam menaklukan konstantinopel, sehingga timbul keinginan kuat dalam benaknya untuk dapat melanjutkan usaha tersebut dan menaklukan Konstantinopel.

Jauh di masa hidupnya Rasulullah, beliau selalu menyerukan pada para sahabat bahwa Konstantinopel akan jatuh di tangan umat Islam pada suatu masa, di bawah pimpinan seorang pemuda terbaik dan pasukan terbaik. Sehingga umat muslim yang kala itu sedang berperang, menjadi begitu semangat mendengar seruan Rasulullah tersebut, yang menyatakan Islam akan jaya dengan takluknya salah satu Kota Termahsyur pada masa itu di bawah pimpinan seorang pemuda muslim terbaik.
Dan ternyata, seruan rasulullah tersebut  mampu dibuktikan setelah 8 abad kemudian. Yaitu, hadirnya seorang pemuda Ustmani, Muhammad Al-Fatih. Dialah pemuda terbaik dalam ramalan rasulullah yang disebut-sebut sebagai pemuda penakluk Konstantinopel. Sultan muda yang ahli militer, sains, matematika, dan menguasai 7 bahasa (Bahasa Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Persia, dan Israil)  juga sejak baligh, menurut catatan sejarah beliau selalu rutin dengan solat fardhu, rawatib dan solat tahajud nya.

Sejak kecil Muhammad al-Fatih dididik oleh ulama-ulama pilihan yang dipercaya ayah beliau, seperti Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani dan Asy-Syeikh Aaq Samsettin (syamsuddin). Sultan Muhammad Al-fatih telah belajar dan menghafal Quran sedari kecil. Beliau tumbuh menjadi seorang pemuda kuat, cerdas dan memiliki kepribadian yang begitu santun.

Beliau menaklukan Konstantinopel pada 1453 Masehi di usia 20 tahun, kala itu beliau mampu memimpin 250.000 pasukan dengan 7 strategi penyerangan dan taktik perang yang disebut Sejarawan Barat sebagai warfare strategy (strategi perang terbaik di dunia) yaitu dengan menjebol teluk Golden Horn. Sejak jatuhnya Konstantinopel di tangan beliau-lah, Islam mulai masuk dan berkembang di Eropa. (Hal ini selaras dengan seruan Rasulullah SAW bahwa Konstantinopel akan jatuh di tangan umat muslim di bawah pimpinan seorang Pemuda terbaik dengan pasukan terbaik).

  1. Laksamana Zheng Ho (Cheng Ho)

Zheng Ho adalah seorang ekspeditor dunia berdarah Tiongkok yang berjasa hingga lahirnya Zheng’s Map Navigations (peta navigasi dunia bersumber pada ekspedisinya dalam mengarungi samudera di seluruh dunia) yang digunakan sebagai penuntun jalur perdagangan dunia masa itu.

Ekspedisi dunia Zheng Ho terungkap setelah ditemukan sebuah prasasti di daerah Fujian, Cina pada 1930-an. Zheng adalah sekpeditor handal abad 15. Menurut Matt Rosenberg (ahli geografi dunia), Zheng lahir pada tahun 1371 di Provinsi Yunan sebalah baratdaya Cina. Nama kecilnya Ma Ho. Dia tumbuh dan dilahirkan dalam keluarga muslim. Bahkan sang ayah disebut pernah menunaikan ibadah haji ke tanah suci, Makkah. Menurut Rosenberg nama keluarga Ma digunakan oleh keluarga muslim di tiongkok yang merujuk pada Muhammad.

Petualangan antar-benua yang dilakukan Zheng selama 28 tahun (1405-1433 M) dilakukan dalam 7 kali pelayaran. Menurut Rosenberg, tak kurang dari 30 negara di Asia dan afrika pernah di singgahi Zheng Ho. Jarak tempuh ekspedisi Zheng Ho dan pasukannya diperkirakan melebihi 35 ribu mil. Tak hanya itu, menurut Rosenberg, ekspedisi Zheng Ho ini jauh lebih awal dari penjelajah asal portugis, Vasco da Gama, dan petualang asal Spanyol, Ferdinand Magellan. Dalam perjalanannya, Zheng Ho mampu mengerahkan armada raksasa dengan puluhan kapal besar (62) dan kapal kecil (belasan) dan puluhan ribu awak (27.000). Melebihi pasukan Columbus saat menemukan Amerika yang hanya mengerahkan 3 kapal dan 88 awak

Zheng Ho mampu menjadi ahli ekspedisi dunia disebabkan karena penangkapannya di usia 10 tahun oleh tentara Cina yang menginvasi daerah Yunan, yang kemudian menjadikannya pelayan di Istana. Namun, di usia 13 thn ia telah diangangkat menjadi pelayan khusus Pangeran Zhu-Di (putera ke-4 kaisar Cina kala itu) yang kemudian mengganti namanya menjadi Zheng Ho, nama ini diambil dari nama pertempuran yang banyak memakan korban bagi istana, yakni Zhenglunba. Pergaulannya dengan pangeran menjadikannya sosok pemuda yang begitu pandai dalam hal politik diplomasi dan strategi. Hingga akhirnya, Zheng Ho diangkat oleh Zhu-Di yang telah menjadi seorang kaisar, sebagai Laksamana istana yang kemudian menghantarkan Zheng Ho menjadi ekspeditor ulung dunia.

3) Usamah bin Zaid bin Haritsah RA

Pemimpin perang termuda yang pernah ada, yaitu di saat usianya belum genap 20 tahun (berkisar 18-19 th). Pemuda ini mengomandoi senior-seniornya, yakni para sahabat nabi, seperti Abu Bakar Siddiq RA, Umar bin khattab RA, Saad bin Abi Waqqash RA dan yang lainnya.

Beliau selalu di sapa Khalifah Umar bin Khattab RA dengan salam “Marhaban bi Aamirii  (Selamat wahai komandanku). Jika masyarakat bertanya, maka Umar selalu berkata, “Usamah pernah menjadi komandanku”.

Usamah ikut berperang pertama kali di usia 15 tahun yaitu pada Perang Khandaq. Usamah sebenarnya datang kepada Rasulullah SAW untuk ikut berperang jauh sebelum Perang Khandaq berlangsung (yaitu ketika perang uhud), namun beliau berkali-kali di tolak oleh Rasulullah SAW, karena usia nya yang masih terlampau muda, hal ini membuatnya berlari ke rumah sambil menangis. Kemudian, ketika Perang Khandaq tiba dan akan berlangsung, Usamah RA kembali menghadap Rasulullah SAW dengan berdiri tegap dan bahu yang diangkat, hal ini ia lakukan agar terlihat lebih tinggi. Melihat tingkah laku Usamah RA, Rasulullah SAW pun mengizinkannya untuk ikut serta dalam perang Khandaq.

Beberapa tahun kemudian, Usamah RA diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk memimpin peperangan dalam menghadapi pasukan romawi, kala itu ia berusia antara 18-19 thn. Tidak sedikit umat muslim yang meragukannya bahkan memintanya digantikan oleh sahabat lain yang lebih senior, disebabkan usia Usamah RA yang dipandang terlampau muda, namun Abu Bakar RA terus meyakinkan kaum muslimin dan mendukung perintah Rasulullah SAW kepada Usamah RA. Hingga akhirnya, Usamah RA berhasil memenangkan pertempuran, tanpa kehilangan pasukannya satu pun (tak ada korban gugur) dan berhasil membawa pulang harta rampasan perang yang disebut-sebut sangat banyak, hingga tak ada harta rampasan perang dari pasukan muslim sebelumnya yang mampu menandingi harta rampasan perang yang dibawa pasukan muslimin di bawah kepemimpinan Usamah RA.

Begitulah Para pemuda Islam, mereka berkarya sepanjang masa untuk menegakkan Laa ilaaha Illallooh.

Nah, bagaimana dengan kita??? Sudahkah kita berkarya dan memberi sumbangsih bagi agama mulia ini? J

 

Oleh: Hisan Mursalin (Duta CRB), dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *