Keutamaan Bulan Ramadhan

SPEAK YOUR MIND

Bulan Ramadhan

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan yang pernah berkah. Bulan yang penuh ampunan. Bulan dimana pintu surga dibuka selebar-lebarnya, pintu neraka ditutup serapat-rapatnya dan setan-setan dibelenggu dengan sekuat-kuatnya. Bulan yang mulia ini adalah bulan Ramadhan. Marhaban Yaa Syahran Ramadhan, Marhaban Yaa Syahran Shiyaami. Itulah quotes yang sering dilontarkan oleh umat Muslim dalam menyambut bulan yang penuh keberkahan ini. Namun, apakah sahabat sudah mengetahui apa saja keutamaan-keutamaan di bulan Ramadhan ini? Jangan sampai kita bahagia dengan kedatangan bulan Ramadhan ini, akan tetapi kita tidak mengeahui keutamaan-keutamaannya sehingga membuat kita jadi kurang semangat dalam menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan menjelaskan sedikit mengenai fadhilah atau keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan yang penulis himpun dari berbagai nash yang shahih baik dari Al-Quran, Al-Hadits dan juga Atsar para shabat serta perkataan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan antara lain:

Diturunkannya Al-Quran

Pada bulan Ramadhan yang mulia ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan umat islam untuk menjalankan puasa, dan pada bulan Ramadhan ini pula Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah [2] : 185)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “(Dalam ayat ini) Allah subhanahu wa ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al-Quran dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.” (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2 hal. 179)

Bulan Penuh Ampunan

Pada bulan Ramadhan ini, adalah bulan yang penuh dengan ampunan. Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya yang telah lalu.

Diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah dan Imam Muslim Al-Hajjaj Al-Qusyairi rahimahullah dalam kedua kitab Shahihnya, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menjalankan puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang mendirikan shalat di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Namun perlu sahabat perhatikan, jika kita simak dari kedua hadits di atas maka agar dosa-dosa kita yang telah lalu dapat diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka sahabat haruslah memenuhi beberapa syarat yaitu melaksanakan amal shalih dengan keimanan dan mengharapkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika syarat melakasanakan amal shalih dengan keimanan dan mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala saja tanpa disusupi hal lain seperti riya’ atau sum’ah telah terpenuhi, maka niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. In syaa Allah.

Dilipat Gandakan Pahala

Dilipat gandakannya pahala amalan pada bulan Ramadhan dengan bilangan tertentu memang tidak disebutkan secara rinci dalam dalil yang shahih. Namun hendaknya kita tetap bersungguh-sungguh untuk melakukan amal shalih di bulan Ramadhan ini, karena banyak dalil yang menunjukan bahwa amalan ibadah di bulan Ramadhan itu pahalanya dilipat gandakan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 271)

Begitu pula ibadah pada malam lailatul qadar akan dilipatgandakan pahala sebagaimana disebutkan dalam ayat:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3). Maksudnya adalah ibadah di malam Lailatul Qadar lebih baik dari ibadah di seribu bulan lamanya.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Amalan yang dilakukan di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amalan yang dilakukan di seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar. Itulah yang membuat akal dan pikiran menjadi tercengang. Sungguh menakjubkan, Allah memberi karunia pada umat yang lemah bisa beribadah dengan nilai seperti itu. Amalan di malam tersebut sama dan melebihi ibadah pada seribu bulan. Lihatlah, umur manusia seakan-akan dibuat begitu lama hingga delapan puluh tahunan.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 977)

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Al-Bukhari)

Dibukakannya Pintu Suga dan Ditutupnya Pintu Neraka Serta Dibelenggungnya Setan

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut. Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Jilid 7 hal. 188)

Terdapat Malam Yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan

Pada bulan Ramadhan terdapat sebuah malam yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan, malam itu yaitu lailatul qadar. Lailatul qadar sendiri dirahasiakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala waktunya, hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu kita bahwa lailatul qadar terletak di antara 10 hari terakhir di bulan Ramadhan tepatnya pada malam ganjil. Pada lailatul qadar inilah Al-Quran diturunkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 1-3)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan [44] : 3)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Amalan yang dilakukan di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amalan yang dilakukan di seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar. Itulah yang membuat akal dan pikiran menjadi tercengang. Sungguh menakjubkan, Allah memberi karunia pada umat yang lemah bisa beribadah dengan nilai seperti itu. Amalan di malam tersebut sama dan melebihi ibadah pada seribu bulan. Lihatlah, umur manusia seakan-akan dibuat begitu lama hingga delapan puluh tahunan.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 977)

Salah Satu Waktu Mustajabnya Do’a adalah Bulan Ramadhan

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidizi rahimahullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak : orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizhalimi.” (HR. At-Tirmidzi)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu. Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.” (Al-Majmu’, Jilid 6 hal. 375)

Selain itu dalam Musnad Al-Bazar, Imam Al-Bazar rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al-Bazar)

Semoga dengan risalah ini, sahabat bisa semakin bersemangat menyambut bulan yang berkah ini dan semakin semangat untuk terus beramal ketika telah memasuki bulan Ramadhan ini. Marhaban Ya Syahran Ramadhan, Marhaban Ya Syahran Shiyami.

Selesai dengan izin Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *