EMANSIPASI ISLAMI

SPEAK YOUR MIND

Sahabat CRB yang kami cintai, dalam artikel ini kita akan membedah sebuah realita besar abad ini, yakni pergeseran emansipasi yang akhirnya mendobrak batas-batas syari’at yang telah di tetapkan dalam Islam. Ini sangat riskan dan perlu di rekonstruksi ulang menjadi konstruksi yng seharusnya, yakni emansipasi Islami.

Munculnya feminisme atau gerakan wanita yang menuntut emansipasi (persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria) adalah bentuk reaksi terhadap pandangan negatif terhadap wanita. Mulai dari kaum jahiliyah Arab yang menjadikan perempuan sebagai komoditi (barang yang dapat diperdagangkan) bahkan mengubur hidup-hidup bayi perempuan karena merupakan suatu aib bagi mereka, kemudian bangsa feodal (pemilik kekuasaan) Eropa pada abad pertengahan yang menyamakan wanita dengan budak (hamba sahaya), dan di tanah air pun perilaku priayi Jawa dari kalangan ningrat yang memperlakukan wanita layaknya komoditi pula. Sehingga tersebutlah pahlawan yang memperjuangkan hak wanita yaitu R.A. Kartini. Citra negatif inilah yang menjadi penyebab lahirnya gerakan emansipasi wanita.

Namun sangat disayangkan gerakan emansipasi yang dilakukan justru menyalahi fitrah (asal penciptaan) wanita itu sendiri, melawan naluri dan menentang kodrat (kekuasaan Ilahi), seperti menuntut mendapatkan pekerjaan yang setara dengan pria, tidak mau mengandung, tidak mau mengurus anak, gila karir, tidak mau menutup aurat, dan bergaul secara ikhtilath (berbaur dengan laki-laki bukan mahram). Bahkan sampai pada puncak terparahnya, mereka (wanita) menggugurkan kandungan, menolak pernikahan dengan pria dan mendukung pernikahan sejenis (lesbi). Hal ini jelas menyalahi naluri dan kodrat, yang pada akhirnya justru merugikan kaum wanita sendiri.

Pada dasar penciptaannya wanita memang diciptakan berbeda dengan pria dari struktur tubuh, karakter dan kejiwaannya, sehingga upaya penyetaraan antara pria dan wanita di segala bidang adalah sebuah kekeliruan, seperti definisi dzalim ‘menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya’. Maka dari sinilah perlunya kita melakukan  “Islamisasi emansipasi”. Kenapa harus sesuai dengan pandangan Islam? Tentu jawabannya karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Sebagaimana firman Alloh SWT: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Alloh (Islam); (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 30)

Penggunaan istilah ‘Islamisasi Emansipasi’ lebih mengacu pada penerapan etika Islam dalam emansipasi yang berkonsentrasi pada prinsip, metode (cara), dan tujuan yang semuanya selaras dengan nilai-nilai Islam.

Sejatinya Islam tidak menolak secara total emansipasi wanita, karena Islam juga tak luput membahasnya, dan dapat dikatakan pula bahwa Islam adalah agama yang mempelopori ‘emansipasi wanita’ dalam sejarah peradaban manusia melalui risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang mengeluarkan wanita dari kungkungan tradisi jahiliyah yang sangat merendahkan mereka. Diantara bentuk emansipasi dalam pandangan Islam antara lain:

  1. Memiliki persamaan di dalam sisi kemanusiaan. Alloh berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” ( al-Hujurat; 13)
  2. Memiliki persamaan dalam hak kepemilikan Alloh SWT berfirman: “(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya” (QS. an-Nisa:32)
  3. Memiliki persamaan dalam memperoleh pahala dan balasan di sisi Alloh SWT, derajat mereka bukan diukur berdasarkan jenis kelaminnya melainkan kadar ketakwaannya. Alloh SWT berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
  4. Memiliki Hak dan kewajiban yang seimbang. Alloh SWT berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik (menurut syariat)” (QS. al-Baqarah: 228)
  5. Memiliki persamaan dalam beban syariat (kecuali apa yang dikhususkan untuk pria). Allah SWT berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan (QS. Muhammad: 19)

Sungguh betapa Islam telah memuliakan wanita, mengangkat derajatnya dan menjaga hak-haknya yang seimbang dengan kaum pria. Akan tetapi, dalam menjalani kehidupan rumah tangga, wanita memiliki tugas, tanggung jawab serta peranan yang berbeda sesuai dengan kodratnya. Pria dengan tabiat gagah perkasa berkewajiban bekerja untuk mencari nafkah sedang wanita dengan tabiat lembut perasaan lagi penuh dengan kasih sayang berkewajiban mendidik putra putrinya dan menjaga keharmonisan rumah tangganya.

Islam pun tidak melarang wanita untuk meniti karir dengan tetap menunaikan hak-hak keluarganya, dengan persetujuan suaminya, menghindari ikhtilath, menutup aurat, menjaga kehoramatan dirinya dan hendaknya pekerjaan yang dijalaninya sesuai dengan fitrah dan kodratnya, seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan sebagainya.

Namun ada pengaruh emansipasi yang sampai pada tuduhan bahwa syariat Islam dinilai tidak adil dalam hak-hak wanita, seperti keharusan  berjilbab, dalam pembagian waris, poligami dan keharusan untuk tetap tinggal di rumah yang menurut anggapan kaum liberalis (penganut kebebasan) dan sekularis (pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama) adalah bentuk memenjarakan wanita. Padahal tuduhan tersebut tidak berdasarkan pada argumentasi yang kuat baik dari sisi logika maupun realita lapangan.

Sebagai penutup, hendaknya kita merenungi betapa agungnya agama Islam ini dengan syariat-syariatnya yang berlaku untuk setiap masa dan tempat, dengan berpegang teguh dan yakin akan kemaslahatan yang akan ditimbulkan. Kemudian mematahkan pemikiran dan celotehan orang-orang yang mendewakan akal dan menuruti hawa nafsunya, yang merupakan kepanjangan tangan dan lisan orang-orang ingin menghancurkan Islam.

 

Oleh: Khairul Anwar, Duta CRB

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *