Eksaminofobia??? Ngga Banget deh!!!

SPEAK YOUR MIND

Satu lagi nih fobia tahunan yang serempak menjangkit kebanyakan para remaja generasi z dan generasi alfa[1] khususnya kelas IX dan XII yaitu eksaminofobia atau takut dengan yang namanya UN.

Beragam aksi dilakukan untuk menghadapi momen ini. Ada yang nyari bocoran jawaban, ada yang pergi ke dukun, bahkan adapula yang stres tanpa kata dan tanpa usaha apa-apa. Ngeri banget ya, emang UN itu apaan sampe bisa memacu the great depression kayak gitu??? Mirip fenomena pasca perang dunia I aja. Mudah-mudahan sahabat CRB ngga ada yang terjangkit fobia ini ya.

Perlu kita sadari bahwa hidup ini penuh dengan liku-liku dan tantangan di setiap tahapannya. Kayak maen game aja, pasti kalo mau maju ke level selanjutnya wajib ngalahin raja dulu atau harus mencapai target lainnya yang telah ditentukan si game maker. Seorang profesor pernah melakukan survey terhadap para gamer dengan hasil yang mencengangkan, yakni 97% gamer pasti akan selalu berusaha memecahkan tantangan yang ia hadapi. Ia akan terus memikirkan solusi pemecahan hingga semuanya terpecahkan dengan skor tertinggi.

Hikmah yang bisa kita petik dalam ilustrasi diatas adalah ‘semangat menaklukkan seorang gamer ketika maen game’. Mereka selalu berusaha dan berusaha. Begitu juga dengan sahabat CRB yang sekarang duduk di kelas IX atau XII, semangatnya harus kayak maen game. Taklukkan UN-nya untuk maju ke jenjang berikutnya, karena ini merupakan sebuah keharusan yang pasti adanya. Maka, sebisa mungkin gunakan teori zero mistake[2]. Pasti bisa Insya Alloh. Lalui semuanya dengan penuh do’a dan usaha ya!

Di awal artikel ini disebutkan bahwa fobia ini hanya menjangkiti generasi remaja z dan alfa saja. Kenapa tidak terjadi pada generasi senior, baby boomers, x dan y[3]??? Pertanyaan ini perlu kita pecahkan dengan tinjauan biologi. Oke, sekarang kita agak seriusin dulu pembahasannya. Baca paragraf dibawah ini dengan seksama!!! Ekhhmm. . .

Berdasarkan kajian biologi, gen adalah bagian molekul DNA yang menentukan sebuah kesatuan fungsional dan merupakan pengontrol sifat dasar yang akan diwariskan pada keturunannya. Sedangkan DNA (Deoxiribo Nuclead Acid) sendiri adalah molekul pembawa sifat dan pada perkembangannya dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Generasi sendiri menunjuk pada sekumpulan orang dengan gen dasar yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa indikator yang dapat digunakan adalah waktu kelahiran seseorang. Gimana??? Bisa dipahami??? Kalo belum,  silahkan ulangi lagi sampai paham. J

Berbicara tentang jenis generasi, setidaknya terdapat enam generasi dalam kehidupan kita. Generasi pertama adalah generasi senior yang merupakan generasi dengan kelahiran sebelum kemerdekaan Indonesia 1945. Dapat dikatakan generasi senior berumur minimal sama dengan hari raya kemerdekaan Indonesia yaitu 66 tahun. Mereka adalah generasi yang paling kolot dan tentunya masih belum banyak tercemar oleh lingkungan yang bersifat negatif.

Generasi kedua adalah generasi Baby Boomers (1946–1964). Dengan iconkami’, Generasi ini lahir dengan di latarbelakangi oleh tingkat kelahiran yang tinggi pasca perang dunia kedua. Perkiraan jumlahnya adalah 30 persen dari total populasi. Generasi ini mempunyai karakter sebagai seorang pahlawan, berorientasi pada kenyamanan dan merespon terhadap petunjuk pencapaian. Namun generasi ini telah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga telah mengalami musimnya rock and roll ala Elvis Presley, mengenal televisi, melakukan demonstrasi, dapat membedakan ras-nya masing-masing, dll. Acapkali generasi baby boomers disebut sebagai generasi penentu karena setiap individu telah mulai menentukan perubahan untuk masa depan walaupun masih dalam skala yang sangat kecil.

Generasi ketiga adalah generasi X (1965–1976). Dengan jumlah 17 persen dari keseluruhan populasi, generasi ini mampu survive diantara dua generasi sebelum dan sesudahnya yang berbeda karakter. Icon yang diusung generasi X adalah ’saya’. Budaya yang dominan adalah budaya pop dan adanya ledakan informasi yang besar. ’Kerja untuk hidup’ adalah falsafah yang dianut oleh generasi X dan timbulnya pertentangan dengan struktur yang bersifat tradisional menyebabkan generasi ini mulai mengenal dan membuat usaha mandiri. Gelombang informasi yang besar membuat perang imajinasi dan kreativitas mulai bermunculan di berbagai bidang. Tidak terkecuali dengan bisnis. Iklan yang kreatif bertebaran di televisi dan ini mendorong pencitraan terhadap merek selain peningkatan penjualan tentunya.

Generasi keempat adalah generasi Y (1977–1990). Jumlahnya yang 20 persen dari total populasi, sukses mengusung icon ’siaga’. Generasi ini berada pada masa transisi menuju dasawarsa milenium, mulai merencanakan upaya menghadapi gelombang globalisasi dan mulai terbuka dengan akulturasi budaya. Bisa di katakan generasi ini sebagai generasi penggebrak.

Selanjutnya adalah generasi Z, generasi ini mengusung icon ‘semua’ Dapat dikatakan generasi Z berhasil menciptakan Breakthrough dalam berbagai bidang. Generasi ini mengalami peningkatan dalam integritas, dibesarkan dalam era persatuan, optimis, serta era daur ulang.  Selain itu respon terhadap ide baru yang di latarbelakangi oleh filosofi, pengalaman, pesan multi generasi sangat cepat terjadi. Tren terbesar saat itu adalah MTV di akhir tahun 2000-an. Dandanan, gaya hidup & pergaulan begitu tersihir oleh endorser pembawa acara MTV. Tidak heran generasi ini terkadang meng-klaim dirinya sebagai ’generasi MTV. Hal ini sebetulnya tidak dapat dipungkiri karena pengaruh televisi terhadap perubahan karakter yang menuju kebebasan sangatlah besar.

Terakhir adalah generasi alfa. Sebuah generasi yang berada pada belaian teknologi. Segala hal dapat dengan mudah di akses melalui internet, dan media massa yang lainnya. Banyak sekali efek positif yang di peroleh oleh generasi ini, namun efek negatifnya tak kalah banyak. Seiring melesatnya teknologi dan menjalarnya short-cut dalam segala bidang membuat remaja pada generasi ini kurang menghargai proses lama dan hanya ingin yang singkat-singkat saja.

Jadi gitu, sahabat CRB sekalian. Inilah yang dikatakan biologi tentang perubahan paradigma dan karakter remaja Indonesia. Lalu, apa hubungannya dengan UN??? Nah, ini inti yang akan kita bahas.

Adapun dalam menghadapi UN, generasi senior, baby boomers, x dan y cenderung sama sekali tidak tegang apalagi stress. Ngga percaya??? Tanya aja langsung ke orang tua atau kakek nenek kita. Tanyakan apa yang mereka lakukan satu hari menjelang UN, UAS atau apa aja deh penamaannya waktu itu! Pasti jawabannya ‘refresh otak’, ada yang berenang, ada yang main bola, atau kegiatan apa aja yang bisa membuat otak menjadi fresh, tidak ada rumus SKS dalam pemikiran mereka. Data ini berdasarkan penelitian, di dukung oleh survey penulis terhadap 10 baby boomers, 7 generasi x dan 6 generasi y, semuanya menjawab dengan nada yang sama dan merasa aneh terhadap para remaja kekinian, yang tak lain adalah generasi z dan alfa.

Jadi begitu kesimpulannya. J Mau percaya atau ngga juga gapapa, karena ini hanya sekedar teori yang di teliti oleh manusia, sekalipun fakta berceceran dimana-mana melalui survey ataupun lainnya.

Artikel ini hanya sebuah pemaparan teori berdasarkan fakta-fakta yang ada, adapun untuk jalan keluar supaya ngga eksaminofobia silahkan sahabat CRB semua yang memutuskan dan memikirkan jalan keluarnya masing-masing. Yang terpenting harus senantiasa berdo’a dan belajar dan jangan pernah nyontek. Semoga UN-nya lancar dengan nilai yang memuaskan. Aamiin.

[1] Remaja di tahun 91-99an dan remaja di tahun 2000-sekarang  (tinjauan gen biologi)

[2] Tanpa kesalahan sedikitpun (eth: nol kesalahan)

[3] Senior: Remaja yang sempat mengalami masa penjajahan Belanda atau Jepang, Baby Boomers: Remaja yang hidup di awal-awal masa kemerdekaan, x: remaja di tahun 65-76, y: remaja di tahun 77-90, yang belum terlalaikan dengan belaian teknologi, mereka merasakan pahitnya perjuangan dan sangat menghargai proses (tinjauan gen biologi).

Oleh: Kak Al-Ghafiqhie, Duta CRB

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *